Landasan Ilmiah Penelitian Teknologi Pendidikan

LANDASAN ILMIAH DAN

PENELITAN TEKNOLOGI PENDIDIKAN


 

 

MAKALAH

Oleh :

SUNARJO

NIM: 06032681620012

 

Dosen Pengampu :

Prof. Dr. H. Fuad Abd. Rachman, M.Pd.

Dr. L. R. Retno Susanti, M.Hum.

 

PROGRAM STUDI MAGISTER TEKNOLOGI PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SRIWIJAYA

2016

 

DAFTAR ISI

 BAB I.        PENDAHULUAN.. 1

1.1.       Latar Belakang. 1

1.2.       Masalah. 2

1.3.       Tujuan. 2

1.4.       Manfaat. 2

BAB II.      PEMBAHASAN.. 3

2.1.       Landasan Ilmiah dalam Teknologi Pendidikan. 3

2.2.       Konsep Teknologi Pendidikan. 4

2.3.       Landasan Teknologi Pendidikan. 5

2.4.       Penelitian Teknologi Pendidikan. 11

2.5.       Kedudukan penelitian pada  teknologi pendidikan. 11

BAB III.     PENUTUP. 14

3.1.       Kesimpulan. 14

3.2.       Saran. 14

 

 

BAB I.                  PENDAHULUAN

1.1.         Latar Belakang

Perkembangan teknologi berpengaruh juga terhadap perkembangan pendidikan, sehingga lahir beberapa hal baru dalam dunia pendidikan. Hal baru tersebut pada awalnya hanya menfokuskan diri pada bidang media, sehingga dapat memberikan nilai tambah dalam proses, produk dan struktur atau system. Ketiga hal tersebut di kenal sebagai teknologi pendidikan (Education Tecnologi).

Lahirnya ilmu baru menuntuk adanya bidang kajian atau bidang kajian penelitian dengan segala perangkatnya. Hal ini menjadi pemikiran para ahli bidang teknologi pendidikan yang dapat digunakan untuk panduan dan pedoman.

Landasan berfikir dalam bidang teknologi pendidikan (education technologi) atau teknologi pembelajaran (instructional technologi) yang menjadikan bidang garapan baru menjadi bidang ilmu atau menjadi disiplin ilmu yang baru adalah rangkaian dalil yang dijadikan sebagai pembenar.  Dasar falsafi dasar keilmuan tersebut ada 3 jenis yaitu : ontology, epistemology dan aksiologi.

Ketiga hal di atas dapat dicapai melalui pendekatan yang memenuhi 4 persyaratan : pendekatan isometric, pendekatan sistematik, pendekatan sinergistik dan pendekatan sistemik. Dengan demikian diharapkan falsafah teknologi pendidikan bertujuan agar setiap orang dapat memperoleh kesempatan belajar, baik sendiri maupun secara organisasi, dan optimal melalui pendekatan yang ada di atas sehingga sumber belajar dapat dirancang sedemikian rupa sehingga menjadi efesien, efektif dan selaras dengan perkembangan masyarakat dan lingkungan, ke arah terbentuknya masyarakat belajar.

Keadaan tersebut menjadi hal yang penting dalam penggarapan bidang teknologi pendidikan yang telah mengalami perubahan pengertian menjadi teknologi pembelajaran sebagai suatu bidang ilmu melalui penelitian dan pengembangan teknologi pendidikan atau teknologi pembelajaran.

Menurut Creswell, Denzin & Lincoln Miarso: di katakan bahwa ada 2 pembagian penelitian dalam teknologi pendidikan yaitu positivistik dan pascapostivistik atau fenomenologik.

Pendekatan positivistic dilakukan dalam pendekatan ilmu-ilmu eksakta dengan menggunakan pola statistic, yang didalamnya terdapat variable yang dikontrol, pengacakan sample, pengujian validitas dan realiabelitas instrument, dan ditujukan pada genaralisasi sample ke dalam populasi. Sedangkan pendekatan atau penelitian pascapositivistik/fenomenologi berakar pada penelitian social seperti bidang etnografi, studi kasus, studi naturalistic, sejarah, biografi, dan teori membumi (grounded theory) dan studi deskriptif. (Miarso, 2007: 209)

1.2.         Masalah

Bagaimanakah landasan ilmiah dan penelitian teknologi pendidikan

1.3.         Tujuan

Dari beberapa hal yang telah diungkapkan dalam latar belakang di atas, maka tujuan penulisan makalah ini ialah:

  1. Menjelaskan landasan ilmiah dan penelitian teknologi pendidikan
  2. Menjelaskan kawasan Penelitian Teknologi Pendidikan

1.4.         Manfaat

Adapun manfaat dari penulisan ini adalah :

  1. Dapat memberikan informasi tentang landasan ilmiah dan penelitian teknologi pendidikan bagi mahasiswa
  2. Memberikan informasi dan gambaran kepada mahasiswa tentang kawasan penelitian teknologi pendidikan

 

 

 

 

 

 

BAB II.              PEMBAHASAN

2.1.         Landasan Ilmiah dalam Teknologi Pendidikan

Teknologi pendidikan merupakan cabang ilmu yang memiliki obyek formal “belajar” manusia baik secara pribadi maupun secara kelompok yang memiliki pola pendekatan isomeristik, sistematik dan sistemik.

  1. Isomeristik: yaitu pendekatan yang menggabungkan berbagai unsur yang saling berkaitan dan membentuk satu kesatuan yang lebih bermakna
  2. Sistematik: yaitu dilakukan secara teratur dan menggunakan pola tertentu.
  3. Sistemik: dilakukan secara menyeluruh, holistic atau komprehensif.

 

Menurut Miarso, (2011:199) landasan ilmiah yang menunjang keberadaan teknologi pendidikan beserta bidang penelitiannya adalah sebagai berikut:

  1. A.A Lumsidaine (1964): teknologi pendidikan merupakan aplikasi dari ilmu dan saint dasar, yaitu:
  2. Ilmu fisika
  3. Rekayasa mekanik, optic, electro dan elektronik
  4. Teknologi komunikasi & telekomunikasi
  5. Ilmu perilaku
  6. Ilmu komunikasi
  7. Ilmu ekonomi
  8. Robert Morgan (1978) berpendapat ada 3 disiplin utama yang menjadi fondasi teknologi pendidikan
  9. Ilmu perilaku
  10. Ilmu komunikasi
  11. Ilmu manajemen
  12. Donald P. Eli (1983) teknologi pendidikan meramu sejumlah disiplin dasar dan bidang terapannya menjadi suatu prinsip, prosedurdan keterampilan. Disiplin yang memberikan kontribusi adalah :
  13. Basic contributing discipline: komunikasi, psikologi, evaluasi dan menajemen
  14. Related contributing field : psikolodi persepsi, prikologi kognisi, psikologi social, media, system dan penilaian kebutuhan.
  15. Barbara B. Seels & Rita C. Richey (1994): akar intelektual teknologi pembelajaran berasal dari disiplin lain meliputi:
  16. Psikologi
  17. Rekayasa
  18. Komunikasi
  19. Ilmu computer
  20. Bisnis
  21. Pendidikan.

2.2.          Konsep Teknologi Pendidikan

Istilah ‘Teknologi’ berasal dari kata Yunani technologis. Technie berarti seni, keahlian atau sains; dan logos berarti ilmu. Teknologi Pendidikan dalam arti sempit bisa merupakan media pendidikan, yaitu hasil teknologi sebagai alat bantu dalam pendidikan agar berhasil guna, efisien dan efektif.

Sedang dalam arti luas menurut Association for Educational Communication and technology (AECT) adalah proses yang kompleks dan terpadu yang melibatkan orang, prosedur, ide, peralatan dan organisasi untuk menganalisis masalah, mencari problem solving, melaksanakan evaluasi dan mengelola pemecahan masalah yang menyangkut semua aspek belajar manusia. Dari definisi tersebut minimal ada dua hal yang penting digaris bawahi : Proses dan belajar manusia. Dalam konteks yang lebih umum , atau hanya dalam Proses pembelajaran , teknologi merupakan pengembangan, penerapan, penilaian sistem , teknik dan alat bantu untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas belajar manusia.Semua itu dapat terwujud dengan adanya komunikasi.

Teknologi Pendidikan menurut Percival & Ellington, 1984 (Inggris), Istilah penting tentang teknologi pendidikan, proses belajar, kondisi belajar, keefektifan, efisiensi dan empirik. Lembaga teknologi pendidikan di Inggris yaitu CET for UK, dan NCPL UK Pada halaman 19 – 20 dari buku tentang “Educational Technology”, mereka mengutip definisi Council for Educational Technology for the UK, yang menjabarkan teknologi pendidikan sebagai pengembangan, penerapan dan evaluasi atas sistem, tehnik, serta alat bantu untuk meningkatkan proses belajar (manusia).

Selain definisi ini, mereka juga mencantumkan definisi yang berasal dari National Centre for Programmed Learning, UK. Definisi tersebut berbunyi antara lain “teknologi pendidikan adalah penerapan pengetahuan ilmiah mengenai belajar dan kondisi belajar untuk meningkatkan keefektifan dan efisiensi pengajaran dan pelatihan. Jika tidak ada temuan atau prinsip ilmiah, maka teknologi pendidikan menggunakan tehnik teruji secara empirik untuk meningkatkan proses belajar”. Mereka berpendapat pola terapan teknologi pendidikan terjadi berupa proses berulang dan pendekatan sistem sebagai alur berpikir dalam merancang situasi mengajar / belajar dan memanfaatkan metode atau tehnik apa saja yang dianggap sesuai untuk pencapaian tujuan belajar. Pendekatan sistem  diharapkan agar dapat diselaraskan dengan rancangan materi dan luwes terhadap perkembangan terbaru proses belajar serta kemajuan di bidang pendekatan mengajar/belajar berikut metodenya. Teknologi Pendidikan sebagai suatu teknologi.

Teknologi pendidikan/instruksional sebagai suatu teknologi telah memenuhi persyaratan, diantaranya :

  • Ilmiah, yaitu teknologi pendidikan telah teruji melalui serangkaian penelitian / pengembangan teori
  • Terbuka, berarti teknologi pendidikan dapat diubah, disesuaikan dengan situasi belajar-mengajar
  • Inovatif, adalah penyesuaian terhadap masukan bidang lain agar tetap berhasil dalam proses belajar
  • Sistemik, yaitu alur berpikir yang menekankan keterhubungan antar komponen serta pengaruhnya terhadap pencapaian tujuan belajar.
  • “Technology phobia vs technology fever” (fobi teknologi vs demam teknologi): seringkali ada orang yang “takut” (terkena aliran listrik) atau ragu-ragu untuk menggunakan teknologi karena kemungkinan teknologi tadi terlihat rumit dan tidak akrab namun terkadang ada orang yang “sangat” menyukai teknologi sehingga sangat tergantung akan keberadaan teknologi.

 

2.3.         Landasan Teknologi Pendidikan

2.2.1.  Landasan Filosofis Teknologi Pendidikan

Landasan Falsafah Penelitian teknologi pendidikan, terdiri atas 3 komponen seperti yang diungkapkan oleh Suriasumantri (dalam Miarso 2007: 103) . Ada 3 jenis komponen dalam teknologi pendidikan yaitu: ontology (apa), epistemology (bagaimana) dan aksiologi (untuk apa).

  • Ontologi : merupakan bidang kajian ilmu itu apa, jika teknologi pendidikan sebagai ilmu maka bidang kajiannya itu apa
  • Epistemologi : Pendekatan yang digunakan dalam suatu ilmu
  • Aksiologi : Menelaah tentang nilai guna, baik secara umum maupun secara khusus, baik secara kasad mata maupun secara abstrak.

Yang menjadi kajian dalam penelitian teknologi pendidikan menjadikan beberapa perkembangan dalam bidang pendidikan seperti yang diungkapkan oleh Ashby ( dalam Miarso 2011:104) yaitu adanya revolusi dalam bidang pendidikan

  • Revolusi I: Pada saat orang tua menyerahkan tanggung jawab pendidikan anak-anaknya kepada oran lain. Orang lain tersebut diserahi untuk melaksanakan pendidikan anak-anaknya. Sebelumnya orang-orang melaksanakan pendidikan anak-anaknya sendiri-sendiri atau mengajar anak-anak sendiri tidak memberikan kepada orang lain, hampir semua keluarga mendidik anak-anaknya dalam keluarga sendiri. Pendidikan yang dilakukan secara individual.

Revoluasi II: Ada suatu lembaga guru, jadi pada tahapan ini ada lembaga pendidikan formal. Tidak seperti sebelumnya belum ada lembaga resmi yang ada sehingga pendidikan dilaksakan orang per orang. Dalam lembaga ada aturan-aturan yang diberlakukan, contohnya untuk masuk SR usianya 6 tahun dan lain-lain. Dalam revoluasi ini guru dianggap sangat penting segala sesuatu dianggap diketahui oleh guru, dan guru dipandang memiliki pengetahuan yang lebih dari orang lain. Sehingga lembaga ini memiliki kedudukan yang tinggi di masyarakat.

  • Revolusi III: Disebabkan oleh ditemukannya mesin cetak, cetak secara manual dilakukan oleh Cina, dan cetak dengan menggunakan mesin cetak dilakukan oleh Eropa (Prancis). Dengan mesin cetak maka pengetahuan tidak hanya diperoleh dari guru tetapi dapat diperoleh dari hasil cetakan seperti: buku, majalah, koran dan lain-lain. Pada revolusi ke-3 ini peran guru sudah mengalami pengurangan. Revolusi ke-3 sampai dengan saat ini masih terjadi
  • Revolusi IV : Disebabkan oleh berkembangnya bidang elektronik sepeti telpon, tv, komputer, internet dimana guru tidak dapat lagi untuk mengontrolnya. Atau minimal peran guru berkurang, dan guru tidak dapat mengklaim dirinya sebagai.

Sudut pandang yang baru mengenai teknologi pendidikan menggunakan beberapa pendekatan dengan ciri-ciri:

  • Keseluruhan masalah belajar dan upaya pemecahannya ditelaah secara simultan. Semua situasi diperhatikan dan dikaji saling kaitannya, dan bukannya dikaji secara terpisah-pisah
  • Unsur-unsur yang berkempentingan diintegrasikan dalam suatu proses komplek secara sistemik, yaitu dirancang, dikembangkan, dinilai dan dikelola sebagai satu kesatuan, dan ditujukan untuk memecahkan masalah
  • Penggabungan ke dalam proses yang komplek dan perhatian agar gejala secara menyeluruh, harus mengandung daya lipat atau sinergisme, berbeda dengan hal dimana masing-masing fungsi berjalan sendiri-sendiri. (Miarso, 2007: 108)

 

Ada 6 hal kegunaan yang potensial dalam teknologi pendidikan yaitu:

  1. Meningkatkan peroduktivitas pendidikan dengan jalan
  • memperlaju penahanan belajar
  • membantu guru untuk menggunakan waktunya secara lebih baik
  • mengurangi beban guru dalam penyajian informasi, sehingga guru dapat lebih banyak membina dan mengembangkan kegairahan belajar anak.
  1. Memberikan kemungkinanan pendidikan yang sifatnya  individual dengan jalan:
  • mengurangi kontrol guru yang kaku dan sederhana
  • memberikan kesempatan anak sesuai kemampuannya
  1. Memberikan dasar pengajaran yang lebih ilmiah dengan jalan:
  • perencanaan program pengajaran yang lebih sistematik
  • pengembangan bahan pengajaran yang dilandasi penelitian tentang prilaku
  1. Lebih menerapkan pelajaran, dengan jalan:
  • meningkatkan kapasitas manusia dengan berbagai media komunikasi
  • penyajian informasi dan data secara lebih konkrit
  1. Memungkinkan belajar lebih akrab:
  • mengurangi jurang pemisah antara pelajaran didalam dan diluar sekolah
  • memberikan pengetahuan tangan pertama
  1. Memungkinkan penyajian pendidikan lebih luas dan merata, terutama dengan jalan:
  • pemanfaatan bersama tenaga atau kejadian yang langka
  • penyajian informasi menembus batas geografi

 

2.2.2.  Landasan Psikologi Teknologi Pendidikan

Dalam pandangan modern, belajar adalah proses perubahan tingkah laku berkat interaksi dengan lingkungan. Seseorang dianggap melakukan kegiatan belajar setelah ia memperoleh hasil yakni terjadinya perubahan tingkah laku misalnya dari tidak tahu menjadi tahu. Pola tingkah laku tersebut meliputi aspek rohani dan jasmani. Menyangkut perubahan yang bersifat pengetahuan, keterampilan dan menyangkut sikap nilai. Siswa yang belajar dipandang sebagai organisme yang hidup sebagai satu keseluruhan yang bulat. Ia bersifat aktif dan senantiasa mengadakan interaksi dengan lingkungannya, menerima, menolak, mencari sendiri dapat pula mengubah lingkungannya.

Pembelajaran pada hakekatnya mempersiapkan peserta didik untuk dapat menampilkan tingkah laku hasil belajar dalam kondisi yang nyata, atau untuk memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupannya. Untuk itu, pengembang program pembelajaran selalu menggunakan teknik analisis kebutuhan belajar untuk memperoleh informasi mengenai kemampuan yang diperlukan peserta didik. Bahkan setelah peserta didik menyelesaikan kegiatan belajar selalu dilakukan analisis umpan balik untuk melihat kesesuaian hasil belajar dengan kebutuhan belajar.

Menurut Lumsdaine (dalam Khadijah 2009), ilmu perilaku merupakan ilmu yang utama dalam perkembangan teknologi pendidikan terutama ilmu tentang psikologi belajar, sedangkan menurut Deterline (dalam Khadijah 2009) berpendapat bahwa teknologi pendidikan merupakan pengembangan ataupun aplikasi dari teknologi perilaku yang digunakan untuk menghasilkan suatu perubahan perilaku tertentu dari pembelajar secara sitematis guna pencapaian ketuntasan hasil belajar itu sendiri. Sedangkan Harless (1968) menyebutnya dengan “front-end analysis”, sedangkan Mager dan Pape (1970) menyebutnya “performance problem analysis”. Romizwoski (1986) mengistilahkan kegitan tersebut sebagai “performance technology”.

Belajar berkaitan dengan perkembangan psikologis peserta didik, pengalaman yang perlu diperoleh, kemampuan yang harus dipelajari, cara atau teknik belajar, lingkungan yang perlu menciptakan kondisi yang kondusif, sarana dan fasilitas yang mendukung, dan berbagai faktor eksternal lainnya. Untuk itu, Malcolm Warren (1978) mengungkapkan bahwa diperlukan teknologi untuk mengelola secara efektif pengorganisasian berbagai sumber manusiawi. Romizowski (1986) menyebutnya dengan “Human resources management technology”.

 

2.2.3.  Landasan Sosiologis Teknologi Pendidikan

Kegiatan pendidikan merupakan suatu proses interaksi antara dua individu, bahkan dua generasi, yang memungkinkan generasi muda memperkembangkan diri. Kegiatan pendidikan yang sistematis terjadi di lembaga sekolah yang dengan sengaja di bentuk oleh masyarakat. Perhatian sosiologi pada pendidikan semakin intensif. Dengan meningkatnya perhatian sosiologi pada kegiatan pendidikan tersebut maka lahirlah cabang sosiologi pendidikan. Sociology adalah penggunaan pendidikan sebagai alat untuk memecahkan permasalahan social dan sekaligus memberikan rekomendasi untuk mendukung perkembangan pendidikan itu sendiri

Landasan sosiologi mengandung norma dasar pendidikan yang bersumber dari norma kehidupan masyarakat yang dianut oleh suatu bangsa. Untuk memahami kehidupan bermasyarakat suatu bangsa, kita harus memusatkan perhatian pada pola hubungan antar pribadi dan antar kelompok dalam masyrakat tersebut. Untuk terciptanya kehidupan masyarakat yang rukun dan damai, terciptalah nilai-nilai sosial yang dalam perkembangannya menjadi norma-norma sosial yang mengikat kehidupan bermasyarakat dan harus dipatuhi oleh masing-masing anggota masyarakat.

Landasan Sosiologi Pendidikan diharapkan mampu memberikan rekomendasi mengenai bagaimana harapan dan tuntutan masyarakat mengenai isi dan proses pendidikan itu, atau bagaimana sebaiknya pendidikan itu berlangsung menurut kacamata kepentingan masyarakat, baik pada level nasional maupun lokal. Sosiologi dalam Pendidikan secara operasional dapat defenisi sebagai cabang sosiologi yang memusatkan perhatian pada mempelajari hubungan antara pranata pendidikan dengan pranata kehidupan lain, antara unit pendidikan dengan komunitas sekitar, interaksi social antara orang-orang dalam satu unit pendidikan, dan dampak pendidikan pada kehidupan peserta didik.

Jadi, secara umum landasan sosiologi Pendidikan bertujuan untuk mengembangkan fungsi-fungsinya selaku ilmu pengetahuan (pemahaman eksplanasi, prediksi, dan utilisasi) melalui pengkajian tentang keterkaitan fenomena-fenomena sosial dan pendidikan, dalam rangka mencari model-model pendidikan yang lebih fungsional dalam kehidupan masyarakat. Secara khusus, Sosiologi Pendidikan berusaha untuk menghimpun data dan informasi tentang interaksi sosial di antara orang-orang yang terlibat dalam institusi pendidikan dan dampaknya bagi peserta didik, tentang hubungan antara lembaga pendidikan dan komunitas sekitarnya, dan tentang hubungan antara pendidikan dengan pranata kehidupan lain.

 

2.2.4.  Landasan Komunikasi Teknologi Pendidikan

Peranan teknologi dalam belajar yang dirancang sebagai tujuan pengajaran yang lebih efektif dan ekonomis merupakan peranan komunikasi yang sangat penting sebab hakikat teknologi pengajaran adalah upaya mempengaruhi siswa agar dapat mencapai tujuan pendidikan. Oleh sebab itu landasan komunikasi teknologi pendidikan ada pada komunikasi insani. Seorang ahli komunikasi dari Amerika Wilbur schramm menjabarkan pengertian ilmu komunikasi itu ke dalam 3 kategori pokok dengan berbagai istilah yaitu :

  • Encoder yaitu, Penyampai pesan dalam hal ini Guru.  guru mempunyai informasi tertentu dan benar, kecepatan yang optimal dan sampai pada penerima informasi yaitu para siswa.
  • Signal yaitu pesan, berita pernyataan yang ditujukan kepada dan diterima oleh seseorang atau kelompok orang penerima pesan itu yang dilukiskan dalam bentuk gerak tangan, mimic, wajah, gambaran, foto, grafik, peta, diagram dll.
  • Decoder yaitu Penerima pesan yaitu siswa, mampu memahami isi pesan yang diterimanya.

2.4.         Penelitian Teknologi Pendidikan

Margono (2003: 18) berpendapat bahwa penelitian adalah pendekatan ilmiah pada pengkajian suatu masalah. Tujuannya yaitu untuk menemukan jawaban-jawaban terhadap persoalan yang signifikan, melalui penerapan prosedur-prosedur ilmiah. Pendekatan ilmiah dilakukan untuk menyelidikan masalah-masalah dalam pendidikan yang kemudia mengahasilkan penelitian pendidikan.

Miarso mengungkapkan (2011:209) bahwa setiap penelitian pada dasarnya adalah segala upaya yang dilakukan manusia dalam mengungkapkan suatu kebenaran. Kebenaran tersebut bisa jadi sebuah kebenaran yang baru, kebenaran atas penelitian sebelumnya, maupun kebenaran untuk membenahi apa yang telah beredar dimasyarakat.

Dunia pendidikan semakin lama akan terus mengalami perkembangan dan semakin maju sesuai perkembangan jaman, dengan tujuan untuk menjawab segala permasalahan manusia untuk mencapai masyarakat yang sejahtera. Perkembangan pendidikan akan berkembang dengan beriringan dengan perkembangan teknologi, hal ini cukup jelas, sebab teknologi adalah salah satu elemen yang memperkuat adanya kajian dalam teknologi pendidikan. Pernyataan tersebut diperkuat dengan definisi yang dikemukakan oleh A. A Lumsidaine (1964). Sebagai cabang ilmu baru maka Teknologi Pendidikan memiliki kawasan tersendiri dalam penelitian sehingga dapat memperkokoh landasan atau dasar ilmu tersebut.

 

2.5.         Kedudukan penelitian pada  teknologi pendidikan.

Minimal ada empat sebab yang melatar belakangi orang melakukan penelitian termasuk dalam mengembangkan teknologi pendidikan sebagai bidang kajian menurut Sukmadinata (2008 : 2)

Pertama, karena pengetahuan, pemahaman dan kemampuan manusia sangat terbatas dibandingkan dengan lingkungannya yang begitu luas. Banyak hal yang tidak diketahui, dipahami, tidak jelas dan meimbulkan keraguan dan pertanyaan tentang teknologi pendidikan baik yang berkenaan dengan landasan perkembangannya, sejarah dan berbagai aspek yang terkait dengan kawasan teknologi pendidikan. Ketidaktahuan, ketidakpahaman, dan ketidakjelasan seringkali menimbulkan rasa takut dan rasa terancam. Oleh karena itu, penelitian menjadi pilihan untuk menguraikan ketidakjelasan tersebut .

Kedua, manusia memiliki dorongan untuk mengetahui atau cariousity. Manusia selalu bertanya, apa itu, bagaimana itu, mengapa begitu dan sebagainya. Bagi kebanyakan orang, jawaban-jawaban sepintas dan sederhana mungkin sudah memberikan kepuasan, tetapi bagi orang-orang tertentu, para ilmuwan, peneliti dan para pemimpin dibutuhkan jawaban yang lebih mendalam, lebih rinci dan lebih komrehensif. Pertanyaan-pertanyaan yang berangkat dari dorongan cariousity tersebut juga berlaku dalam teknologi pendidikan sebagai bidang kajian. Pertanyaan itu misalnya, bagaimana mengembangkan teknologi pendidikan, apa yang harus dilakukan untuk meningkatkan kualitas teknolog pendidikan, dan berbagai pertanyaan lainnya. Jawaban dari berbagai pertanyaan itu tentunya harus lahir dari proses analisa berdasarkan data yang dapat dipertangungjawabkan secara ilmia. Untuk kepentingan itu, maka penelitian dalam teknologi pendidikan berkedudukan sebagai alat untuk menyediakan data-data ilmiah dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Ketiga, manusia di dalam kehidupannya selalu dihadapkan kepada masalah, tantangan, ancaman, kesulitan baik di dalam dirinya, keluarganya, masyarakat sekitarnya serta dilingkungan kerjanya. Masalah, tantangan dan kesulitan tersebut membutuhkan penjelasan, pemecahan dan penyelesaian. Tidak semua masalah dan kesulitan dapat segera dipecahkan. Masalah-masalah yang pelik, sulit dan kompleks membutuhkan penelitian untuk pemecahan dan penyelesaiannya.

Keempat, manusia merasa tidak puas dengan apa yang telah dicapai, dikuasai, dan dimilikinya, ia selalu ingin yang lebih baik, lebih sempurna, lebih memberikan kemudahan, selalu ingin menambah dan meningkatkan “kekayaan” dan fasilitas hidupnya. Dari hasil penelitian, manusia dapat mengembangkan pengetahuan yang bermakna bagi kehidupan ilmiah maupun kehidupan sosial. Berangkat dari kerangka pikir tersebut di atas, maka berlaku pula dalam mengembangkan domain/kawasan teknologi pembelajaran. Sebab disadari bahwa setiap bidang kajian termasuk teknologi pembelajaran dapat berkembang secara maksimal bila didukung oleh pengkajian ilmiah yang dilakukan secara terus menerus. Penelitian merupakan salah satu bentuk sistematis dari kegiatan pengkajian ilmiah. Jadi penelitian dalam domain/kawasan teknologi pendidikan berkedudukan sebagai model pengkajian ilmiah yang sistematis untuk menjawab dan memecahkan berbagai masalah yang timbul dalam domain/kawasan teknologi pendidikan. Disamping itu, lewat penelitian akan dapat diketahui mengenai kelayakan dan efektifitas berbagai inovasi baru yang ditemukan dan dikembangkan pada ke lima kawasan teknologi pendidikan. Contohnya, pada kawasan desain. Ciri utama desain adalah adanya dugaan prinsip-prinsip dan prosedur-prosedurnya didasarkan pada hasil penelitian. Misalnya, kita ingin mengembangkan sebuah model desain pesan yang dapat dipergunakan pada pembelajaran anak-anak tuna netra. Maka dalam proses pengembangan sampai validasi produk harus dilakukan secara sistematis melalui mekanisme penelitian yang terencana dengan prosedur yang ketat pula. Hal ini dilakukan agar model desain pesan yang tengah kita kembangkan benar-benar valid dan dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah.

 

BAB III.           PENUTUP

3.1.       Kesimpulan

Teknologi pendidikan merupakan cabang ilmu yang memiliki obyek formal “belajar” dan obyek  material “manusia” baik secara pribadi maupun secara kelompok yang memiliki pola pendekatan isomeristik, sistematik dan sistemik. keberadaan teknologi memberikan pengaruh ke semua lini kehidupan termasuk dalam dunia pendidikan. Teknologi yang secara bahasa yang berarti ilmu tentang seni, keahlian, atau sains. Dari makna secara bahasa saja diketahui bahwa teknologi adalah output dari kemajuan ilmu pengetahuan.

Teknologi pendidikan merupakan penerapan pengetahuan ilmiah mengenai belajar dan kondisi belajar untuk meningkatkan efektif dan efisiensi pengajaran dan pelatihan. Jika tidak ada temuan atau prinsip ilmiah, maka teknologi pendidikan menggunakan tehnik teruji secara empirik untuk meningkatkan proses belajar. Hal ini dibuktikan dengan pemenuhan syarat bahwa teknologi pendidikan itu harus ilmiah, terbuka, inovatif, sistemik dan menggunakan teknologi.

Teknologi pendidikan disusun berdasarkan beberapa landasan seperti landasan filosofis, landasan psikologis, landasan sosial, dan landasan komunikasi. Hal ini menunjukkan teknologi pendidikan dibangun atas pengetahuan yang universal dan komprehensif.

Penelitian pada dasarnya adalah segala upaya yang dilakukan manusia dalam mengungkapkan suatu kebenaran. Kebenaran tersebut bisa jadi sebuah kebenaran yang baru, kebenaran atas penelitian sebelumnya, maupun kebenaran untuk membenahi apa yang telah beredar dimasyarakat.

Margono (2003: 18) berpendapat bahwa penelitian adalah pendekatan ilmiah pada pengkajian suatu masalah. Tujuannya yaitu untuk menemukan jawaban-jawaban terhadap persoalan yang signifikan, melalui penerapan prosedur-prosedur ilmiah. Pendekatan ilmiah dilakukan untuk menyelidikan masalah-masalah dalam pendidikan yang kemudia mengahasilkan penelitian pendidikan.

3.2.       Saran

Teknologi dalam kehidupan, khususnya pendidikan, memberikan dampak yang sangat luar biasa. Pemanfaatan teknologi pendidikan diharapkan mampu menunjang efektivitas proses pembelajaran sehingga siswa dapat belajar dengan baik dan menghasilkan prestasi yang memuaskan. Bagi para praktisi maupun calon praktisi pendidikan (konselor), hendaknya memahami dengan baik penggunaan teknologi pendidikan dalam proses pembelajaran. Harapannya agar seluruh potensi siswa baik itu kognitif, afektif dan psikomotorik berkembang secara utuh dan bersinergi. Sehingga terciptalah proses pembelajaran yang mendukung ke arah tujuan pendidikan nasional.

 

DAFTAR PUSTAKA

http://amrull4h99.wordpress.com/2009/12/24/landasan-psikologi-pendidikan/ diunduh pada 03 Nopember 2015 pukul. 13.00 wib

http://fadlibae.wordpress.com/2010/03/10/landasan-ilmiah-dan-penelitian-teknologi-pendidikan/ diunduh pada 03 Nopember 2015 pukul. 13.00 wib

http://wijayalabs.wordpress.com/2008/06/16/landasan-ilmiah-dan-penelitian-tp/ diunduh pada 03 Nopember 2015 pukul. 13.00 wib

http://rikaferanita.blogspot.co.id/2011/11/landasan-ilmiah-dan-penelitian.html diunduh pada 03 Nopember 2015 pukul. 13.00 wib

Khadijah, Nyanyu. 2009. Psikologi Pendidikan. Palembang: CV.Grafika Telindo

Miarso, Yusufhadi, 2007. Menyemai Benih Teknologi Pendidikan, Jakarta: Kencana.

Soekanto, Soerjono. 1994. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada

Sukamadinata, Nana Syaudih. 2008. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s